Home » Uncategorized » Tahapan Dan Cara Mengantarkan Jenazah Yang Baik Dan Benar

Tahapan Dan Cara Mengantarkan Jenazah Yang Baik Dan Benar

Kematian tidaklah dapat diterka kapan akan terjadi. Manusia cuma dituntut untuk beribadah mencari bekal. Jika tersedia seorang dukun yang mengaku dapat meramal, sungguh perkara kematian itu tidaklah akan dapat ia ramalkan. Bahkan dirinya sendiri saja tidak sadar kapan akan mati. Sebab prilaku dukun adalah penipu ulung.

Dalam Islam, langkah merawat jenazah hingga di antara ke kubur sudah diatur bersama dengan detail. Secara sunnah, Rosulullah sudah mengajarkannya. Oleh dikarenakan itu, tidak diperkenankan menambah-nambah syari’at yang sudah Rosulullah ajarkan. Meskipun itu dipandang baik, kalau tidak tersedia tuntunanya maka tidak diperkenankan.

 

Tetapi jika pada saat pengurusan jenazah yaitu pada saat memandikan dan anda membutuhkan tempat pemandiannya maka anda bisa kunjungi http://pemandianjenazah.net

Beberapa perihal yang harus diperhatikan sementara mengantarkan jenazah:

1. Sunnahnya keranda tidak ditutup. Tujuannya sehingga dapat jadi muhasabah bagi yang mengantarkan.
2. Pengantar tidak diperkenankan berbicara atau berdzikir spesifik sementara itu. Disunnahkan diam dan ikuti di belakang keranda.
Ketika masuk ke pemakaman, tidak diperkenankan pula berbincang-bincang.
Apa saja yang disyariatkan Islam di dalam mempunyai dan mengantarkan jenazah?

Disyari’atkan mengantarkan jenazah dan turut memikulnya, disunnahkan untuk memikul berasal dari semua pinggir keranda. Diriwayatkan oleh Ahmad, berasal dari Abu Sa’id, bahwa Rosulullah SAW bersabda: “Jenguklah orang sakit dan iringkanlah jenazah niscaya akan mengingatkanmu akan hari akhirat”.
Menyegerakan kepengurusan jenazah, bersama dengan tidak mengakibatkan rusaknya jenazah atau menyusahkan pemikul keranda dan pengantar jenazah. Diriwayatkan oleh Ahmad, Nasa’I dan lain2, berasal dari Abu Bakar katanya: “Akan kau melihat bahwa di dalam mengantarkan jenazah itu, kamu beserta Rasulullah SAW seolah-olah berlari layaknya”.
Berjalan di depan, belakang, segi kanan atau segi kiri dekat keranda. Para ulama tidak serupa pendapat berkenaan mana yang lebih utama, tetapi Annas bin Malik berpendapat seluruhnya nilainya sama, sebagaimana sabda Rosulullah: ”Orang yang berkendaraan hendaklah berjalan di belakang jenazah, sedang yang berjalan kaki hendaknya berjalan di belakang, depan, di sebelah kanan dan disebelah kiri di dekatnya”.

Apakah boleh mengantar jenazah bersama dengan berkendaraan?

Jumhur ulama berpendapat, makruh mengantar jenazah bersama dengan berkendaraan kalau tersedia udzur, tetapi sewaktu ulang berasal dari pekuburan diperbolehkan, berdasarkan hadist riwayat Turmudzi, ”Bahwa Rosulullah SAW pergi mengantarkan jenazah Ibnu Dahdah bersama dengan berjalan kaki dan ulang bersama dengan mengendarai seekor kuda”.

Namun jika anda membutuhkan keranda jenazah maka segeralah kunjungi http://pemandianjenazah.net/kain-penutup-keranda-jenazah

Hal-hal apa saja yang dimakruhkan berkenaan jenazah?

1. Berdzikir, membaca sesuatu atau pekerjaan2 lainnya bersama dengan nada keras. Berkata Ibnul Mundzir: ”Kami memperoleh riwayat berasal dari Qeis bin ’Ibad yang menyebutkan bahwa para sahabat Rosulullah SAW tidak menyukai mengeraskan nada terhadap tiga hal: hadapi jenazah, ketika berdzikir dan sewaktu peperangan”.

2. Mengiringinya bersama dengan perapian, dikarenakan ini merupakan perbuatan jahiliyyah. Berkata Baihaqi: ”Dan di dalam wasiat berasal dari ’Aisyah, berasal dari ’Ubadah bin Shamit,Abu Hurairah, Abu Sa’id al-Khudri dan Asma’ binti Abu Bakar ra. Terdapat ’Janganlah kamu iringkan aku bersama dengan api’.” Tapi kalau pemakaman dijalankan malam hari hingga butuh penerangan maka tidak tersedia salahnya. Berdasarkan hadist yang diriwayatkan oleh Turmudzi berasal dari Ibnu Abbas: ”Bahwa Rosulullah SAW dulu memasuki suatu kuburan di malam hari, maka dinyalakan lampu”.

3. Menurut kebanyakan sahabat, Tabi’in, Hanafi, Hambali, Auza’i dan Ishak adalah makruh kalau pengiring jenazah duduk sebelum jenazah diletakkan di bumi, berdasarkan hadist Rosulullah berasal dari Abu Sa’id al-Khudri: ”Jika kamu melihat jenazah, hendaklah berdiri! Dan siapa yang mengiringinya janganlah ia duduk sebelum diletakan” Sedangkan menurut Imam Syafi’i tidak makruh kalau si pengantar jenazah duduk sebelum mayat diletakan. Berdasarkan ucapan Imam Syafi’i, berbicara Turmudzi: ”Diriwayatkan berasal dari {beberapa|sebagian|lebih berasal dari satu} pakar berasal dari para sahabat Nabi SAW dan lain2, bahwa mereka biasa termasuk mendahului jenazah dan duduk sebelum ia sampai”.

4. Berdiri ketika jenazah lewat. Para ulama berselisih faham di dalam kasus ini, diantara mereka tersedia yang berpendapat makruh berdiri ketika jenazah lewat, tersedia termasuk yang membuktikan sunnat berdiri, dan tersedia yang berpendapat boleh menentukan diantara keduanya.

5. Mengiringkan jenazah bagi wanita. Dalam kasus ini para ulama tidak serupa pendapat. Mazhab Ibnu Mas’ud, Ibnu Umar, Abu Amamah, ‘Aisyah, Masruq, Hasan, Nakh’i, Auza’i, Ishak, Hanafi, Syafi’i dan Hambali berpandapat makruh bagi wanita untuk mengiringkan mayat, berdasarkan hadist riwayat Ahmad, Bukhari dan Ibnu Majah, berasal dari Ummu ‘Athiyyah, katanya: “Kami dilarang untuk mengiringkan jenazah, tetapi tidaklah dikerasi”. Sedangkan menurut Imam Malik, tidaklah makruh kalau perempuan yang sudah berumur mengantar jenazah, demikian termasuk wanita muda yang kematiannya dirasakan sebagai musibah besar atas dirinya, bersama dengan syarat ia pergi sembunyi2 dan tidak akan mengundang fitnah. Adapun menurut Ibnu Hazmin, tidak tersedia salahnya bagi wanita mengantarkan mayat.

Leave a Reply